Senin, 15 Agustus 2011

pengertian keterampilan/macam-macam keterampilan

KETERAMPILAN DAN DOMAIN PSIKOMOTOR
Pendahuluan
Kemampuan menampilkan keterampilan merupakan keistimewaan manusia.
Tanpa keistimewaan tersebut, dapat dibayangkan bahwa kita sebagai manusia
hanya akan bersandar pada gerak-gerak refleks seperti binatang, termasuk dalam
memenuhi kebutuhan hidup. Karena keistimewaan tersebut, manusia mampu
menguasai keterampilan dalam berbagai banyak segi kehidupan, dari mulai
keterampilan vokasional hingga keterampilan berolahraga.
Dalam bidang olahraga, termasuk dalam sirkus, kita dapat menyaksikan
bahwa keterampilan yang dikuasai seseorang tersebut kadang-kadang melampaui
apa yang dapat dipikirkan. Bayangkan, seorang pemain tenis yang dapat melakukan
pukulan terhadap bola yang melayang cepat dengan sedemikian tepatnya. Demikian
juga ketika kita menyaksikan pesenam yang dapat melakukan gerakan salto berpilin
dengan dua atau tiga putaran. Lebih menakjubkan lagi jika kita melihat seorang
pemain sirkus yang menguasai benda yang dimainkannya sedemikian mantapnya,
tanpa kesalahan sama sekali. Semua contoh tersebut menunjukkan bahwa
keterampilan gerak merupakan bagian penting dari kehidupan manusia.
Keterampilan manusia mengambil bentuk yang bermacam-macam. Dari yang
menekankan pengendalian dan koordinasi dari kelompok otot besar dalam aktivitas
yang memerlukan kekuatan seperti dalam sepak bola dan senam, hingga yang
mengharuskan otot-otot halus digunakan secara tepat dan presisi seperti dalam
bermain piano atau mereparasi jam tangan.
Bagaimanakah keterampilan-keterampilan tersebut dipelajari dan dikuasai
oleh manusia dan bagaimana keterampilan tersebut digunakan dalam berbagai
MODUL
2
situasi, akan menjadi fokus dari modul 7 hingga ke 12 ini. Hal ini dianggap penting,
karena pada dasarnya hidup kita sebagai manusia selalu dikaitkan dengan upaya
menampilkan keterampilan dan mempelajari keterampilan.. Namun demikian kedua
fenomena ini—penampilan gerak dan pembelajaran gerak—akan didiskusikan
secara berurut dalam modul yang berbeda.
Modul 7 akan dimulai dengan pembahasan tentang hakikat keterampilan,
sehingga memberikan dasar pemahaman mengapa dan bagaimana keterampilan
tersebut dipelajari pada modul-modul berikutnya. Sehingga dapat dikatakan bahwa
pendekatan terhadap substansi belajar motorik ini bersifat deduktif, dimulai dari
konsep pengertian keterampilan itu sendiri baru mengarah pada bagaimana
mempelajari keterampilan itu di bagian-bagian berikutnya.
Pengorganisasian modul 7 ini cukup sederhana, yaitu dibagi ke dalam dua
kegiatan belajar. Kegiatan Belajar 1 memuat pengertian keterampilan,
pengklasifikasian keterampilan, serta faktor-faktor yang mempengaruhi
penguasaan keterampilan. Kegiatan Belajar 2 mencoba menjelaskan taksonomi
psikomotor, yang di dalamnya mengupas tentang pembagian gerak dari mulai
gerak refleks hingga gerak sebagai alat ekspresi dan komunikasi.
Dengan demikian, setelah mempelajari modul ini, diharapkan mahasiswa
dapat :
a. Memahami konsep tentang definisi keterampilan,
b. Menjelaskan klasifikasi keterampilan beserta contoh-contohnya
c. Menjelaskan faktor-faktor yang mempengaruhi penguasaan keterampilan,
d. Menjelaskan taksonomi psikomotorik yang berlaku dalam pembelajaran
motorik.
Agar penguasaan Anda terhadap materi modul ini cukup komprehensif,
disarankan agar Anda dapat mengikuti petunjuk belajar di bawah ini:
1) Bacalah dengan cermat bagian pendahuluan modul ini sampai Anda
memahami betul apa, untuk apa, dan bagaimana mempelajari modul ini.3
2) Baca sepintas bagian demi bagian dan temukan kata-kata kunci atau
konsep yang Anda anggap penting. Tandai kata-kata atau konsep tersebut,
dan pahamilah dengan baik dengan cara membacanya berulang-ulang,
sampai dipahami maknanya.
3) Pelajari setiap kegiatan belajar sebaik-baiknya. Jika perlu baca berulangulang sampai Anda menguasai betul, terutama yang berkaitan dengan
konsep tentang keterampilan dan klasifikasi keterampilan serta domain
psikomotorik.
4) Untuk memperoleh pemahaman yang lebih mendalam, bertukar pikiranlah
dengan sesama teman mahasiswa, guru, atau dengan tutor anda.
5) Coba juga mengerjakan latihan atau tugas, termasuk menjawab tes formatif
yang disediakan. Ketika anda menjawab tes formatif, strateginya adalah
menjawab dulu semua soal sebelum anda mengecek kunci jawaban. Ketika
mengetahui jawaban Anda masih salah pada persoalan tertentu, bacalah lagi
seluruh naskah atau konsep yang berkaitan, sehingga Anda menguasainya
dengan baik. Jangan hanya bersandar pada kunci jawaban saja.
Selamat mencoba, semoga sukses.4
Kegiatan Belajar 1
Pengertian Keterampilan dan Faktor yang Mempengaruhinya
1. Pemahaman tentang Keterampilan Gerak
Keterampilan gerak dapat dipahami batasannya dengan dua cara. Yang pertama,
keterampilan dapat dilihat sebagai tugas-tugas gerak, seperti panahan, biliar, atau
memahat. Dilihat dari cara ini, keterampilan dapat diklasifikasikan dengan berbagai
dimensi atau menurut karakteristiknya yang menonjol. Kedua, keterampilan dapat
juga dilihat dalam kaitannya dengan keadaan yang membedakan antara yang
terampil dan tidak terampil. Maksudnya, keterampilan dari kategori kedua ini lebih
berkaitan dengan tingkat kemahiran dalam penguasaan suatu tugas gerak.
Istilah keterampilan sulit untuk didefinisikan dengan suatu kepastian yang
tidak dapat dibantah. Keterampilan dapat menunjuk pada aksi khusus yang
ditampilkan atau pada sifat di mana keterampilan itu dilaksanakan. Banyak
kegiatan dianggap sebagai suatu keterampilan, atau terdiri dari beberapa
keterampilan dan derajat penguasaan yang dicapai oleh seseorang
menggambarkan tingkat keterampilannya. Hal ini bisa terjadi karena
kebiasaan yang sudah diterima umum untuk menyatakan bahwa satu atau
beberapa pola gerak atau perilaku yang diperhalus bisa disebut keterampilan,
misalnya menulis, memainkan gitar atau piano, menyetel mesin, berjalan,
berlari, melompat, dsb. Jika ini yang digunakan, maka kata 'keterampilan'
yang dimaksud adalah sebagai kata benda. Di pihak lain, keterampilan juga
bisa digunakan sebagai kata sifat, walaupun kalau hal ini digunakan, kata
tersebut sudah berubah strukturnya hanya menjadi terampil. Kata ini
digunakan untuk menunjukkan suatu tingkat keberhasilan dalam melakukan
suatu tugas.
Jika memperhatikan kondisi dari kedua hal yang digambarkan di atas,
maka istilah 'keterampilan' tersebut harus didefinisikan dengan dua cara.
Pertama, dengan menganggapnya sebagai kata benda, yang menunjuk pada
suatu kegiatan tertentu yang berhubungan dengan seperangkat gerak yang
harus dipenuhi syarat-syaratnya agar bisa disebut suatu keterampilan. Kedua, 5
dengan menganggapnya sebagai kata sifat. Yang sudah dilakukan orang
selama ini dalam kaitannya dengan istilah keterampilan baru terbatas pada
penjabaran definisi dalam konteks yang terakhir.
Schmidt (1991) mencoba menggambarkan definisi keterampilan tersebut
dengan meminjam definisi yang diciptakan oleh E.R. Guthrie, yang
mengatakan bahwa: "Keterampilan merupakan kemampuan untuk membuat
hasil akhir dengan kepastian yang maksimum dan pengeluaran energi dan waktu
yang minimum." Sedangkan Singer (1980) menyatakan bahwa "keterampilan
adalah derajat keberhasilan yang konsisten dalam mencapai suatu tujuan dengan
efisien dan efektif."
Kedua definisi di atas, walaupun dinyatakan secara berbeda namun
sama-sama memiliki unsur-unsur pokok yang menjadi ciri dari batasan
keterampilan. Unsur-unsur itu adalah:
1. Di dalam keterampilan terdapat beberapa tujuan yang berhubungan
dengan lingkungan yang diinginkan, misalnya menahan posisi handstand
dalam senam atau menyelesaikan umpan ke depan dalam sepakbola.
Dalam pengertian ini, keterampilan dibedakan dari gerakan yang tidak
mesti memiliki tujuan yang berhubungan dengan lingkungan tertentu
seperti menggoyang-goyangkan jari tangan tanpa tujuan (Schmidt, 1991).
2. Di dalam keterampilan pun terkandung keharusan bahwa pelaksanaan
tugas atau pemenuhan tujuan akhir tersebut dilaksanakan dengan
kepastian yang maksimum, terlepas dari unsur kebetulan atau untunguntungan. Jika seseorang harus melakukan suatu keterampilan secara
berulang-ulang, maka hasil dari setiap ulangan itu relatif harus tetap,
meskipun di bawah kondisi yang bervariasi maupun yang tidak terduga
(Singer, 1980).
3. Keterampilan menunjuk pada upaya yang ekonomis, di mana energi
yang dikeluarkan untuk melaksanakan suatu tugas tertentu harus
seminimal mungkin, tetapi dengan hasil yang maksimal. Dalam hal ini
Schmidt mencatat bahwa dalam beberapa tugas gerak tertentu, efisiensi
tenaga ini bukanlah tujuan utama, sebab tugas gerak seperti dalam Tolak 6
Peluru atau Sprint misalnya mengharuskan pelakunya mengerahkan
tenaganya dalam takaran yang maksimal.
Kaitan pengeluaran energi yang minimum berlaku dalam hal
pengorganisasian gerak atau aksi yang tidak hanya dalam arti energi
tubuh saja, melainkan juga menunjuk pada pengeluaran energi secara
psikologis atau mental. Bergerak secara keras tetapi kaku menunjukkan
pengeluaran energi tubuh yang tidak efisien. Demikian juga jika selama
pelaksanaan tugas itu si pelaku merasa tegang, tertekan, atau masih
memikirkan secara mendalam tentang gerakan yang dimaksud.
4. Keterampilan mengandung arti pelaksanaan yang cepat, dalam arti
penyelesaian tugas gerak itu dalam waktu yang minimum. Semakin
cepat pelaksanaan suatu gerak, tanpa mengorbankan hasil akhir
(kualitas) yang diharapkan, maka akan membuat terakuinya keterampilan
orang yang bersangkutan. Dalam hal ini perlu dimengerti bahwa
mempercepat gerakan suatu tugas akan menimbulkan pengeluaran
energi yang semakin besar, di samping membuat gerakan semakin sulit
untuk dikontrol ketepatannya. Namun meskipun demikian, lewat
latihan dan pengalaman semua unsur yang terlibat dalam menghasilkan
gerakan yang terampil perlu dikombinasikan secara serasi.
Sebagai perbandingan dari keempat unsur di atas, H.W.
Johnson (dalam Singer, 1980) mengidentifikasi adanya empat aspek atau
variabel yang mencirikan keterampilan. Keempat aspek itu adalah
kecepatan, akurasi, bentuk, dan kesesuaian. Artinya, pertama keterampilan
harus ditampilkan dalam batasan waktu tertentu, yang menunjukkan bahwa
semakin cepat semakin baik. Kedua keterampilan harus menunjukkan
akurasi yang tinggi sesuai dengan yang ditargetkan. Ketiga keterampilan
pun harus dilaksanakan dengan kebutuhan energi yang minimal; (form atau
bentuk menunjuk pada usaha yang ekonomis). Dan terakhir, keterampilan
pun harus juga adaptif, yaitu tetap cakap meskipun di bawah kondisi yang
berbeda-beda.7
Sebagai kesimpulan, seperti dinyatakan oleh Schmidt, keterampilan
pada dasarnya merupakan upaya untuk mencapai tujuan-tujuan yang
berhubungan dengan lingkungan dengan cara:
• memaksimalkan kepastian prestasi.
• meminimalkan pengeluaran energi tubuh dan energi mental, dan
• meminimalkan waktu yang digunakan.
2. Klasifikasi Keterampilan: Perspektif tugas
Salah satu cara melihat konsep keterampilan adalah dengan melihatnya
sebagai sebuah tugas. Isunya di sini adalah untuk menetapkan karakteristik
yang menonjol dari tugas gerak yang dapat dilakukan pelaku untuk
membedakan satu dengan lainnya. Karakteristik dimaksud adalah untuk
mengklasifikasikan keterampilan menjadi beberapa macam dan kelas.
Pengkelasan dilakukan untuk membantu para peneliti dan pendidik untuk
keperluan penelitian atau pengajarannya. Dengan mengetahui perbedaanperbedaan dalam keterampilan tersebut, maka akan mudahlah bagi pendidik
untuk membuat pentahapan pembelajarannya.
Banyak pendekatan yang telah dikembangkan untuk mengklasifikasikan
keterampilan gerak. Setiap sistem klasifikasi didasarkan pada hakikat umum
dari keterampilan gerak dikaitkan dengan aspek-aspek spesifik dari
keterampilan tersebut. Setidaknya ada empat karakteristik yang dapat
dikemukakan di sini, yaitu dilihat dari atau dikaitkan dengan:
1) stabilitas lingkungan,
2) cara tugas tersebut dilakukan, dan
3) ketepatan gerakan yang dimaksud.
4) relativitas pentingnya elemen gerak dan kognitif
a. Keterampilan Terbuka dan Tertutup.
Keterampilan bisa dibedakan antara keterampilan-keterampilan terbuka dan
tertutup. Hal ini berkaitan dengan kondisi lingkungan (environment) pada saat 8
keterampilan yang bersangkutan dilakukan. Menurut Schmidt (1991)
Keterampilan Terbuka (open skill) adalah keterampilan yang ketika dilakukan,
lingkungan yang berkaitan dengannya bervariasi dan tidak dapat diduga. Ini hampir
sama seperti yang dikemukakan oleh Magil (1985) yang menyebutkan bahwa
keterampilan terbuka adalah keterampilan-keterampilan yang melibatkan
lingkungan yang selalu berubah dan tidak bisa diperkirakan. Sebagai contoh dari
keterampilan ini misalnya pukulan-pukulan pada stroke tenis atau pukulan pada
softball yang kedatangan bolanya dari lawan sering tidak bisa diduga sebelumnya,
baik dalam hal kecepatannya maupun dalam hal arahnya. Dalam hal ini Gentile
(1972) mengatakan bahwa, "...pelaku harus bertindak atas rangsangan yang
datang." Dengan demikian, pelaku tidak bisa menunggu atau berdiri di satu titik
saja atau memukul bola dengan jenis pukulan tertentu saja, tetapi lebih
ditentukan oleh arah dan kecepatan dari bola yang datang. Untuk bisa berhasil
dengan baik, maka pemain harus bergerak dan bertindak sesuai dengan lokasi
ruang dari bola serta tuntutan kecepatannya. Marilah kita batasi saja
keterampilan terbuka ini sebagai keterampilan yang pelaksanaannya lebih
ditentukan oleh lingkungan yang tidak tetap dan tidak bisa diduga.
Keterampilan Tertutup (closed skill) menunjukkan keterampilan yang
sebaliknya. Schmidt dan Magil sama-sama mendefinisikan keterampilan tertutup
ini sebagai keterampilan yang dilakukan dalam lingkungan yang relatif stabil dan
dapat diduga. Contohnya seperti keterampilan-keterampilan yang menjadi ciri
olahraga bowling, golf, panahan, senam atau renang. Kesemua keterampilan
dalam olahraga di atas merupakan keterampilan yang ditentukan oleh pemain
atau pelaku, tanpa harus dibatasi oleh lingkungan sekitar. Cobalah lihat pada
olahraga panahan misalnya. Si pemanah hanya melepaskan anak panahnya
dari busur pada saat yang ia rasa tepat. Atau lihat juga olahraga golf. Pegolf
hanya memukul bola kapan saja ia mau. Oleh karena itu kedua keterampilan ini
sering juga dipertukarkan dengan mudah dengan istilah self-paced skill (closed
skill) dan external-paced skill (open skill). Dalam hal ini Gentile mengatakan
bahwa kedua keterampilan di atas bukanlah merupakan suatu dikotomi,
melainkan lebih merupakan sebuah kontinum, yaitu adanya keterhubungan yang 9
semakin berubah dari ujung satu ke ujung yang lain, namun tidak terpisahkan.
Untuk membantu memahami adanya kontinum tersebut, di bawah ini akan
diperlihatkan gambar berikut;
Closed Skills Open Skills
Tidak Bergerak Tidak Bergerak Bergerak
Bergerak
(Kategory 1) (Kategory 2) (Kategory 3) (Kategory
4)
Memukul bola dari
Batting tee; setiap
kali ketinggiannya
sama
Memukul bola dari
Batting tee; setiap
kali ketinggiannya
berubah
Memukul bola dari
mesin pitching;
setiap kali
kecepatan tetap
Memukul bola dari
lemparan pitcher;
kecepatan, lokasi,
dan jenis
lemparan setiap
kali berubah
Gambar 7.1. Kontinuum Empat-Kategori dari Closed Skills ke Open Skills
(dikutip dari Magil, 1985)
b. Keterampilan Diskrit, Kontinuous, dan Serial.
Cara kedua dalam membedakan jenis keterampilan yakni dengan
menghubungkannya dengan berlangsungnya perilaku dari keterampilan
tersebut, antara keterampilan yang berlangsung singkat dibandingkan
dengan keterampilan yang berlangsung terus menerus dalam waktu lama.
Atau seperti dikemukakan di atas, keterampilan ini dibedakan dengan
melihat jelas tidaknya antara titik awal dan titik akhir dari gerakan yang
dimaksud.
Keterampilan diskrit (discrete skill) diartikan oleh Schmidt sebagai
keterampilan yang dapat ditentukan dengan mudah awal dan akhir dari
gerakannya, yang lebih sering berlangsung dalam waktu singkat, seperti
melempar bola, menendang bola, gerakan-gerakan dalam senam artistik,
atau menembak. Keterampilan-keterampilan semacam ini tentu saja
dianggap penting dalam olahraga dan permainan karena menentukan 10
pencapaian tujuan dalam olahraga yang bersangkutan.
Di ujung lain dari ukuran keterampilan tersebut yakni keterampilan
berkelanjutan (continuous skill), yang pelaksanaannya tidak memperlihatkan
secara jelas mana awal dan mana akhir dari suatu keterampilan. Magil
menyebutkan bahwa "...jika suatu keterampilan mempunyai awal dan akhir
gerakan yang selalu berubah-ubah, maka keterampilan itu dikategorikan
sebagai keterampilan berkelanjutan." Dalam hal ini bisa jadi pelakulah yang
menentukan titik awal dan titik akhir dari keterampilan termaksud, dan bukan
keterampilan itu sendiri. Contoh dari keterampilan ini dapat kita temui dalam
renang atau berlari, yang titik awal dan akhirnya ditentukan oleh si pelaku.
Contoh lain dalam bidang lain bisa dikemukakan seperti mengendarai mobil, di
mana si pengendaralah yang menentukan berlangsungnya aksi mengendarai
tersebut.
Lalu bagaimana dengan keterampilan serial? Keterampilan Serial (serial
skill) menurut Schmidt adalah keterampilan yang sering dianggap sebagai
suatu kelompok dari keterampilan-keterampilan diskrit, yang digabung untuk
membuat keterampilan baru atau keterampilan yang lebih kompleks. Namun
demikian, kata serial di sini juga menunjukkan bahwa urutan dari
keterampilan-keterampilan yang digabung tadi merupakan hal yang penting
dalam berhasilnya melakukan keterampilan ini. Jadi tidak sembarangan asal
menggabungkan. Memindahkan gigi (gear) dalam mengendarai mobil
misalnya, adalah keterampilan serial yang dibangun oleh tiga macam
keterampilan diskrit yang digabungkan: mengangkat dan menekan gas,
menginjak kopling, serta memindahkan gigi. Contoh lain bisa juga dilihat pada
rangkaian senam artistik.
Tabel 7.1
Dimensi Keterampilan Diskrit, Kontinuus, dan Serial
(dikutip dari Schmidt dan Wrisberg (2000)
Keterampilan Diskrit
(Awal dan akhir
Keterampilan
Kontinuus
Keterampilan Serial
(gabungan beberapa 11
gerakan jelas) (Awal dan akhir
gerakan tidak jelas)
keterampilan diskrit)
Melempar Dart Mengemudi mobil Memukul paku dengan
palu
Menangkap bola Berenang Rangkaian senam lantai
Melempar bola Berlari Lempar lembing dari
awalan hingga
lemparan
c. Keterampilan Gerak Kasar dan Keterampilan Gerak Halus.
Pengklasifikasian yang terakhir dikenal dengan keterampilan gerak kasar
dan keterampilan gerak halus, di mana ketepatan menjadi penentu dari
keberhasilannya. Magil membatasi Keterampilan Gerak Kasar (gross motor
skill) sebagai 'keterampilan yang bercirikan gerak yang melibatkan kelompok
otot-otot besar sebagai dasar utama gerakannya. Dikatakan demikian karena
seluruh tubuh biasanya berada dalam gerakan yang besar, menyeluruh,
penuh, dan nyata (Singer, 1980; dan Malina and Bouchard, 1991).
Keterampilan ini dengan demikian tidak terlalu menekankan ketepatan dalam
pelaksanaannya, serta tentunya merupakan kebalikan dari keterampilan
gerak halus. Berjalan, berlari, melompat, melempar, serta kebanyakan
keterampilan dalam olahraga dimasukkan sebagai keterampilan gerak kasar.
Namun demikian, berhasilnya penampilan keterampilan ini tetap memerlukan
koordinasi gerak yang tinggi, sebab tidak ada satu pun keterampilan olahraga
yang tidak disertai oleh keterampilan yang halus. Semua gerakan atau
tindakan, terdiri dari sebuah kontinum antara yang halus dan yang kasar.
Sedangkan Keterampilan Gerak Halus (fine motor skill) adalah
keterampilan-keterampilan yang memerlukan kemampuan untuk mengontrol
otot-otot kecil/halus untuk mencapai pelaksanaan keterampilan yang sukses.
Biasanya, menurut Magil (1985), keterampilan ini melibatkan koordinasi
neuromuscular yang memerlukan ketepatan derajat tinggi untuk berhasilnya
keterampilan ini. Keterampilan jenis ini sering juga disebut sebagai
keterampilan yang memerlukan koordinasi mata-tangan (hand-eye 12
coordination). Menulis, menggambar, dan bermain piano, adalah contohcontoh dari keterampilan tersebut. Malina (1991) menegaskan hal ini dengan
mengemukakan contoh pelaksanaan lambungan bola softball (pitching) yang
membutuhkan baik ketepatan dan kecepatan. Ketepatan memerlukan derajat
ketelitian dan pengontrolan jari dan tangan, sedangkan kecepatan
memerlukan lebih banyak gerak kasar dari lengan dan tubuh untuk
memberikan daya lempar yang mencukupi.
d. Keterampilan Gerak dan Keterampilan Kognitif
Schmidt memasukkan terhadap klasifikasi keterampilan ini keterampilanketerampilan yang dibedakan antara keterampilan gerak dan keterampilan
kognitif. Menurutnya, dalam Keterampilan gerak, penentu utama dari
keberhasilannya adalah kualitas dari gerakan itu sendiri tanpa
memperhatikan persepsi serta pengambilan keputusan yang berkaitan
dengan keterampilan yang dipilih. Contohnya dalam olahraga lompat tinggi Si
pelompat tidak perlu memperhitungkan kapan dan bagaimana ia harus
bertindak untuk melompati mistar, tetapi yang harus ia lakukan adalah
melompat setinggi dan seefektif mungkin.
Dalam keterampilan kognitif hakikat dari gerakannya tidaklah penting,
tetapi keputusan-keputusan tentang gerakan apa dan yang mana yang harus
dibuat merupakan hal terpenting. Contohnya, dalam olahraga catur. Bukanlah
hal yang penting apakah buah catur digerakkan dengan cepat atau pelanpelan, tetapi yartg penting adalah pemain mengetahui buah catur yang mana
yang harus digerakkan serta ke mana digerakannya.
Pendeknya, keterampilan kognitif terutama berkaitan dengan pemilihan
apa yang harus dilakukan, sedangkan keterampilan gerak terutama berkaitan
dengan bagaimana melakukannya. Ukuran ini, seperti juga yang lain,
hanyalah merupakan kontinum, sebab tidak ada keterampilan yang benarbenar keterampilan kognitif atau benar-benar keterampilan gerak. Setiap
keterampilan memerlukan kombinasi dari keduanya. Kebanyakan
keterampilan yang nyata biasanya berada di antara kedua ujung dari 13
pengkutuban kedua keterampilan ini dan merupakan kombinasi kompleks
dari pembuatan keputusan dan pelaksanaan gerakan.
3. Klasifikasi Keterampilan: Perspektif Penguasaan Penampilan
Kita dapat juga mengklasifikasikan keterampilan dari sudut keadaan yang
membedakan antara penampil terampil dan penampil yang kurang terampil. Banyak
kualitas dari penampilan terampil yang dapat dipertimbangkan, terutama dengan
mengajukan definisi yang dikemukakan oleh ahli psikologi E.R. Guthrie, yang
mencakup tiga keadaan penting. Menurut Guthrie, keterampilan adalah kemampuan
untuk membawa hasil akhir dengan kepastian yang maksimum dan pengeluaran
energi yang minimum dan dalam hal waktu yang juga minimum.
Ketika kita berbicara tentang keterampilan gerak, kita menyinggung tentang
gerakan yang ditampilkan dengan tujuan lingkungan yang diinginkan dalam pikiran,
seperti menahan posisi handstand dalam senam atau memegang makanan dengan
tangan buatan. Gerakan yang tidak memiliki tujuan lingkungan tertentu, bukanlah
keterampilan. Seseorang yang lebih baik penguasaannya dalam mencapai tujuan
gerak tertentu biasanya menunjukkan satu atau lebih kualitas yang disebut oleh Guthrie,
yaitu kepastian yang maksimum, pengeluaran energi yang minimum, serta waktu
tempuh yang juga minimum.
a. Kepastian Maksimum dari Pencapaian Tujuan
Salah satu kualitas dari penguasaan keterampilan adalah kepastian gerakan. Untuk
menjadi “terampil” berarti bahwa seseorang harus dapat memenuhi tujuan penampilan
atau hasil akhirnya dengan kepastian yang maksimum. Sebagai contoh, banyak orang
mampu melemparkan anak panah dart ke titik tengah lingkaran target. Tetapi aksi itu
sendiri tidak memastikan bahwa orang-orang tersebut bisa disebut pemain terampil.
Bagi mereka, hasil seperti itu bisa jadi merupakan lemparan keberuntungan setelah
ratusan kali lemparan yang gagal. Hanya pemain yang dapat melakukan lemparan
berulang kali dengan hasil akhir yang selalu pastilah yang pantas disebut pemain 14
terampil. Di dalamnya tidak ada hasil yang sifatnya untung-untungan. Itulah sebabnya
mengapa publik selalu mengagumi atlet juara yang, dalam waktu yang sangat kritis dan
kesempatan yang sekali-kalinya, dapat menghasilkan aksi terampil yang menghasilkan
skor dan merubah kemenangan bagi tim.
b. Pengeluaran Energi Minimum
Kualitas kedua dari penguasaan keterampilan adalah meminimalkan dan kadang
bermakna memelihara energi yang diperlukan pada penampilan. Untuk beberapa
keterampilan, penghematan tentu energi bukan tujuan utama, karena aksi seperti tolak
peluru misalnya, justru diperlukan adanya pengeluaran energi yang benar-benar
maksimal untuk memperoleh jarak tolakan yang juga maksimal. Tetapi untuk banyak
keterampilan lainnya, meminimalkan pengeluaran energi berarti pengurangan atau
penghilangan gerakan yang tidak diharapkan. Karakeristik ini benar-benar diperlukan
untuk penampil yang harus menghemat energi untuk mencapai sukses. Contohnya
adalah para atlet triatlon atau pegulat yang dalam saat-saat menjelang akhir harus
menghemat energi tanpa kehilangan ketepatan gerakannya.
Pemahaman tentang penghematan energi juga mengindikasikan bahwa pemain yang
terampil dapat mengatur gerakannya dengan cara mengurangi keterlibatan pemikiran
dalam pelaksanaan gerakan. Pemain yang menghasilkan gerakan secara otomatis
dapat mengarahkan konsentrasi dan perhatiannya pada aspek lain seperti strategi atau
taktik bertanding. Meminimalkan pengeluaran energi pada gerakan merupakan tujuan
penting bagi penguasaan keterampilan melalui otomatisasi gerakan sebagai hasil dari
latihan.
c. Waktu Gerakan yang Minimum
Kualitas ketiga dari penguasaan keterampilan adalah berkurangnya waktu
(meningkatnya kecepatan) pada saat gerakan dilakukan. Banyak atlet seperti sprinter,
perenang, dan pembalap yang menetapkan tujuan dari pelatihannya adalah
mengurangi waktu tempuh dari pelaksanaan aksinya. Semakin sedikit waktu yang
digunakan, maka semakin cepat pelaksanaan gerakannya, yang untuk beberapa 15
cabang benar-benar menentukan tingkat keberhasilannya. Oleh karena itu,
peningkatan keterampilan dari cabang olahraga yang bersangkutan termasuk juga di
dalamnya penambahan unsur kecepatan sebagai upaya meminimalkan waktu.
4. Konsep dalam Keterampilan Motorik
a. Perbedaan Individual
Pada bagian awal tentang faktor pribadi dikatakan bahwa setiap individu
memiliki perbedaan dalam banyak hal dengan individu lainnya. Pengalaman kita
sehari-hari dan penyelidikan secara empirik pun menyatakan hal yang sama
tentang hal ini: bahwa individu memang berbeda-beda. Ambilah entah dari
lingkungan kita sendiri, baik dalam lingkungan bermain maupun dalam lingkungan
sekolah, kita akan segera dapat melihat adanya perbedaan-perbedaan itu jika
kita membandingkan kemampuan kita dengan kemampuan seseorang lainnya.
Ada orang yaivg mampu berlari cepat, ada juga yang lambat, atau ada orang
yang belajar gerak dengan cepat, ada juga yang nampak mengalami kesulitan.
Singer (1980) menyatakan bahwa sumber perbedaan dalam hal keterampilan
tersebut bisa bermacam-macam. Hal itu bisa karena berbeda dalam hal fisik,
kemampuan (abilities), gaya belajar, sikap, emosi, serta pengalaman-pengalaman masa
lalu yang memiliki kaitan dengan tugas yang dipelajari. Kesemua faktor tadi memang
saling berhubungan dan memberikan sumbangannya sendiri-sendiri terhadap penguasaan
keterampilan.
b. Kemampuan dan Keterampilan
Karena kita sedang berhubungan dengan pembelajaran gerak, perbedaan
individual yang akan dibahas pun lebih ditekankan pada aspek yang
berhubungan langsung dengan gerak itu sendiri. Salah satu hal yang paling
sering disinggung, dan akan demikian untuk seterusnya, adalah faktor
kemampuan (ability).
Kemampuan sering dianggap sebagai suatu hal yang mendasari
terbentuknya keterampilan dari seseorang. Namun demikian, cukup sulit untuk
menyatakan apakah sebenarnya kemampuan, dan apa bedanya kemampuan 16
dengan keterampilan? Bahkan dalam percakapan sehari-hari para insan
olahraga pun, kedua istilah ini sering dipergunakan secara bergantian, tanpa
mereka menjelaskannya lebih lanjut apa sebenarnya perbedaan dan
persamaan yang mendasarinya. Para ahli seperti Singer (1980), Fleishman (1972),
serta Schmidt (1991) menyatakan bahwa kemampuan dan keterampilan harus
dibedakan dalam pengertiannya. Kemampuan diartikan sebagai ciri individual yang
diwariskan dan relatif abadi yang mendasari serta mendukung terbentuknya
keterampilan (Schmidt, 1991). Sedangkan keterampilan mengacu secara spesifik
pada tugas tertentu serta dicapai dengan adanya latihan serta pengalaman (Singer,
1980).
Demikian juga apa yang dimaksud dengan kemampuan gerak (motor ability)
yang pastilah berbeda makna dengan keterampilan gerak atau olahraga.
Kemampuan gerak menurut Singer (1980) adalah keadaan segera dari seseorang
untuk menampilkan berbagai variasi keterampilan gerak, khususnya dalam kegiatan
olahraga.
Dengan demikian, kemampuan gerak (motor ability) itu banyak macamnya,
tidak hanya terbatas pada sesuatu yang berhubungan langsung dengan
keterampilan dalam bidang olahraga. Kemampuan itu bisa dibedakan dari mulai
ketajaman visual dan melek warna, konfigurasi tubuh, kemampuan numerik,
kecepatan reaksi, ketangkasan manual, kepekaan kinestetis, dan banyak lagi,
yang sebagian darinya melibatkan aspek-aspek persepsi dan pembuatan
keputusan, sedangkan yang lain melibatkan pengorganisasian dan perencanaan
gerak (Schmidt, 1991).
Kemampuan-kemampuan tersebut bisa berbeda-beda potensinya pada
setiap orang. Itulah alasannya mengapa seseorang bisa berbeda dalam hal
keterampilannya dari orang yang lainnya. Pada sebagian orang salah satu
kemampuan (misalnya ketajaman visual) bisa lebih kuat dari kemampuan
lainnya. Begitu juga antara orang yang satu dengan yang lainnya, kemampuankemampuan itu bisa berbeda takarannya.
Penelitian dalam bidang kemampuan motorik telah dilakukan banyak orang.
Salah satu studi yang paling bisa diterima dalam mengungkapkan kemampuan-17
kemampuan itu adalah Fleishman, yang mencoba membedakan antara motor
ability dengan kemampuan kecakapan fisik (physical proviciency abilities).
Menurut Fleishman (dalam Schmidt, 1991 dan Singer, 1980), kemampuan gerak
terdiri dari:
1) kecermatan kontrol (control precision): terutama melibatkan gerakangerakan yang dikontrol otot besar.
2) Koordinasi anggota badan (multilimb coordination): koordinasi bersamaan
dari gerakan-gerakan sejumlah anggota badan.
3) Orientasi ruang (response orientation): pemilihan respons yang benar
(diskriminasi visual), tanpa memperhatikan ketepatan dan koordinasi.
4) Waktu reaksi (reaction time): kecepatan merespons suatu stimulus.
5) Kontrol kecepatan (rate oontrol): penyesuaian gerak secara antisipatif yang
terus menerus pada tanda-tanda keadaan yang berubah-ubah.
6) Kecepatan gerakan lengan (speed arm movement). kecepatan di mana
ketepatan tidak penting.
7) Ketangkasan manual (manual dexterity): manipulasi objek-objek besar di
bawah kondisi kecepatan.
8) Ketangkasan jemari (finger dexterity): manipulasi objek-objek kecil dengan
ketepatan dan kontrol.
9) kestabilan lengan-tangan (arm-hand steadiness): pengontrolan gerak
lengan dan tangan, baik ketika tanpa berpindah tempat maupun pada
saat berpindah.
10) Kecepatan pergelangan-jari (Wrist-finger speed): kegiatan menepuk atau
mengetuk.
11) Kepekaan kinestetik (kinesthetic sensitivity): menyangkut kepekaan untuk
menyadari posisi anggota tubuh dalam hubungannya dengan posisi tubuh.
Sedangkan dalam kaitannya dengan penampilan olahraga dan kerja fisik
lainnya, yang diperlukan adalah kemampuan kecakapan tubuh, yang antara lain
disebutnya sebagai:18
1) kekuatan statis,
2) kekuatan dinamis,
3) kekuatan eksplosif,
4) kekuatan torso,
5) kelentukan yang luas,
6) keletukan dinamis,
7) koordinasi tubuh,
8) koordinasi anggota tubuh, dan
9) stamina.
Karena dipandang sangat beragam dan tidak pastinya pengidentifikasian
kemampuan gerak ini, maka Singer lebih menyukai memilih empat kemampuan
yang bersifat lebih langsung hubungannya dengan keterampilan olahraga, yaitu:
koordinasi, kinestetis, keseimbangan, dan kecepatan gerak. Koordinasi dianggap
sebagai kemampuan untuk mengontrol bagian-bagian tubuh yang terpisah yang
terlibat di dalam suatu pola gerakan yang kompleks dan menyatukan bagianbagian tersebut dalam upaya yang tunggal, halus dan berhasil untuk mencapai
tujuan. kinestetis atau disebut juga poprioceptif umumnya menunjuk pada
kemampuan indera untuk memberikan informasi tentang posisi tubuh dalam
ruang dan hubungannya dengan bagian-bagian tubuhnya. Keseimbangan adalah
kemampuan untuk memelihara posisi tubuh. Karena posisi tubuh bisa berubahubah, maka kemampuan dalam menjaga posisinya ini dibedakan antara
keseimbangan statis (pada saat diam) dan keseimbangan dinamis (pada saat
badan bergerak). Sedangkan kecepatan gerak adalah kemampuan untuk
memindahkan tubuh atau anggotanya dalam waktu yang sesingkat-singkatnya.
c. Pola Gerak dan Keterampilan
Lalu apakah perbedaan antara pola gerak dan keterampilan? Pada
setiap kesempatan sering kita dengar bahwa kedua istilah itu dipertukarkan
untuk menunjuk pada hal yang sama. Untuk lebih
mempertanggungjawabkan keabsahan dari penggunaannya maka kedua 19
istilah tersebut perlu dibedakan dalam pengertiannya.
Gerakan kadang-kadang digambarkan dalam konteks pola dan
keterampilan. Pola gerak, menurut Malina (1991), merupakan gerak dasar atau
gerakan-gerakan yang dilibatkan dalam menampilkan suatu tugas tertentu.
Tekanannya adalah pada gerakan-gerakan yang menyusun tugas gerak tertentu.
Dalam hal ini apa yang menjadi dasar penamaan pola gerak sama dengan
keterampilan, tetapi keterampilan lebih menekankan pada ketepatan,
ketelitian, dan keefisienan penampilannya. Dengan kata lain, pola gerak
menunjuk pada konsep yang umum, sedangkan keterampilan gerak lebih
terkhususkan.
Barbara Godfrey dan Newell Kephart (1969) seperti dikutip Singer (1980)
berusaha menerangkan lebih mendetil tentang perbedaan kedua isu gerak ini.
Menurut mereka, keterampilan gerak lebih berupa kegiatan yang dibatasi dalam
keluasannya dan melibatkan suatu gerakan tunggal atau sekelompok kecil gerak
tertentu yang ditampilkan dengan tingkat ketepatan dan kecermatan yang tinggi.
Sedangkan pola gerak merupakan kelompok gerak yang lebih luas atau
merupakan beberapa seri aksi gerak yang ditampilkan dengan tingkat
ketepatan yang lebih kecil. Pada keterampilan, gerakannya terbatas tetapi
akurasinya sangat ditekankan, sedangkan pada pola gerak, gerakan
ditekankan tetapi ketepatannya dibatasi.
Sebagai contoh dari pola gerak adalah locomotor. Pelaku bebas memilih
dari sekian aksi gerak; apakah mau berjalan, berlari, atau melompat, untuk
berpindah dari satu tempat ke tempat lain. Berjalan memang merupakan
sebuah keterampilan yang dikembangkan dengan lebih baik lagi dari sekedar
bisa berjalan. Untuk bisa mengatakan berjalan sebagai keterampilan,
tentunya seseorang harus melatihnya sedemikian rupa sehingga berjalannya
bisa dilakukan secara baik, tepat, dan efisien. Pada dasarnya keterampilan
merupakan penghalusan gerak dari pola-pola gerak dasar.
Latihan20
1. Sebutkan empat unsur/ciri yang terkandung dalam keterampilan.
2. Keterampilan pada umumnya bisa diklasifikasikan dengan tiga cara.
Sebutkan ketiga cara pengklasifikasian tersebut dan beri penjelasan serta
contoh pada masing-masing cara tersebut!
3. Identifikasilah faktor-faktor yang mempengaruhi pencapaian keterampilan.
Jelaskan secara singkat setiap faktor itu.
4. Bisakah Anda menjelaskan perbedaan antara kemampuan (ability) dengan
keterampilan (skill)? Cobalah identifikasi ciri-ciri utamanya.
5. Terangkan pula perbedaan antara keterampilan (skill) dan pola gerak
(movement pattern)
Petunjuk Mengerjakan Latihan
Semua jawaban untuk latihan-latihan di atas dapat ditemui pada naskah,
sehingga apa yang harus Anda lakukan adalah mencoba mencari pokok
masalah yang dipertanyakan dalam latihan. Sebagian pertanyaan memang
membutuhkan jawaban kritis dan analitis, atau kadang bersifat sintetis. Untuk itu,
Anda diharapkan dapat mempelajari konsepnya secara mendalam, kemudian
mencari hubungan dari konsep itu dan menyimpulkannya. Kadang, jawaban dari
pertanyaan latihan dapat ditemui dengan mudah pada rangkuman.
Rangkuman
Keterampilan adalah kemampuan untuk membuat hasil akhir dengan kepastian
yang maksimum dan pengeluaran energi dan waktu yang minimum. Open skill
adalah keterampilan yang ketika dilakukan, lingkungan yang berkaitan
dengannya bervariasi dan tidak dapat diduga. Closed skill adalah keterampilan
yang dilakukan dalam lingkungan yang relatif stabil dan dapat diduga.
Self-paced skill adalah istilah lain untuk keterampilan tertutup, karena di sini
pergerakan seseorang lebih ditentukan oleh diri sendiri. Contohnya memukul bola
golf. External-paced skill adalah identik dengan keterampilan terbuka, di mana
inisiatif pergerakan seseorang lebih banyak dipicu oleh desakan dari luar dirinya
sendiri.
Discrete skill adalah keterampilan yang dapat ditentukan dengan mudah awal
dan akhir dari gerakannya; lebih sering berlangsung dalam waktu singkat, seperti
melempar bola, menendang bola, gerakan-gerakan dalam senam artistik, atau
menembak. Continuous skill adalah keterampilan yang pelaksanaannya
tidak memperlihatkan secara jelas mana awal dan mana akhirnya. Contohnya
berjalan dan berlari yang awal dan akhirnya lebih ditentukan oleh pelaku sendiri.21
Serial skill adalah keterampilan yang sering dianggap sebagai suatu gabungan
dari keterampilan-keterampilan diskrit, yang digabung untuk membuat
keterampilan baru atau keterampilan yang lebih kompleks. Contohnya
kelanjutan mengendarai mobil, atau keterampilan-keterampilan olahraga yang
terdiri dari berbagai keterampilan dasar, seperti permainan voli, basket, dsb.
Gross motor skill adalah keterampilan yang bercirikan gerak yang melibatkan
kelompok otot-otot besar sebagai dasar utama gerakan-nya. Fine motor skill
adalah keterampilan-keterampilan yang memerlukan kemampuan untuk
mengontrol otot-otot kecil/halus untuk mencapai keberhasilan
pelaksanaannya.
Ability (kemampuan) diartikan sebagai ciri individual yang diwariskan dan
relatif abadi yang mendasari serta mendukung terbentuknya keterampilan.
Motor ability menurut Singer adalah keadaan segera dari seseorang untuk
menampilkan berbagai variasi keterampilan gerak, khususnya dalam
kegiatan olahraga.
Tes Formatif 1
Berilah tanda silang (X) pada salah satu jawaban A, B, C, atau D yang paling
tepat.
1. Pengertian keterampilan pada dasarnya dapat dianalisis berdasarkan pada
konsep yang menunjuk pada dua perspektif yang berbeda, yaitu:
A. Perspektif lingkungan dan perspektif manusia,
B. Perspektif produk dan perspektif proses
C. Perspektif awal dan perspektif akhir
D. Perspektif tugas dan perspektif penguasaan tugas
2. Dilihat dari perspektif tugas, keterampilan dapat diklasifikasikan berdasarkan
pada keempat karakteristik di bawah ini, kecuali:
A. Stabilitas lingkungan
B. Cara pengaturan tugas tersebut,
C. Tinggi rendahnya kompleksitas tugas tersebut,
D. Tingkat ketepatan dari tugas yang dilakukan.
3. Keterampilan terbuka adalah keterampilan yang tugas-tugas geraknya selalu
dilakukan:
A. Di lingkungan yang tidak pernah berubah,
B. Di lingkungan yang mudah diduga,
C. Di lingkungan yang tidak mudah diduga,
D. Di lingkungan yang jarang berubah dan relatif tenang.
4. Contoh dari keterampilan terbuka adalah cabor di bawah ini, kecuali:
A. Tinju
B. Basket,
C. Sepatu roda,
D. Sepak bola22
5. Definisi dari keterampilan diskrit adalah:
A. Keterampilan yang dilakukan di alam terbuka,
B. Keterampilan yang memerlukan waktu pelaksanaan singkat dan mudah
dilihat awal serta akhir gerakannya.
C. Keterampilan yang berlangsung secara terus menerus,
D. Keterampilan yang memungkinkan pemainnya berpikir dulu.
6. Dilihat dari perspektif penguasaan tugas, keterampilan memiliki arti sebagai
kemampuan untuk membawa hasil akhir dengan kepastian yang maksimum
dan pengeluaran energi yang minimum. Definisi di atas berasal dari:
A. E.R. Guthrie,
B. Richard Schmidt
C. Robert N. Singer
D. Oxendine
Setelah anda menjawab semua pertanyaan di atas, cocokkan hasil jawaban
anda dengan kunci jawaban tes yang ada di belakang modul ini dan hitunglah
jawaban anda dengan benar. Kemudian gunakan formula matematis di bawah ini
untuk mengetahui tingkat penguasaan anda dalam materi kegiatan pembelajaran
di atas.
Jumlah jawaban yang benar
Rumus : Tingkat Penguasaan = x 100 %
6
Kriteria tingkat penguasaan yang dicapai:
90 % - 100 % = Baik sekali
80 % - 89 % = Baik
70 % - 79 % = Cukup
60 % - 69 % = Kurang
60 ke bawah = Kurang sekali
Bila anda telah mencapai tingkat penguasaan 80 % atau lebih, anda dapat
meneruskan dengan Kegiatan Belajar berikutnya. Bagus ! Tetapi bila tingkat
anda masih di bawah 80 %, anda harus mengulangi Kegiatan Belajar 1 tersebut
terutama bagian yang belum anda kuasai.2324
Kegiatan Belajar 2
Taksonomi Psikomotorik
Dalam bahasa Indonesia kata "motor" dan "movement" diterjemahkan sebagai
gerak atau gerakan, tanpa mengandung perbedaan di dalamnya.
Sesungguhnya dalam bahasa Inggris pengertian kedua kata ini berbeda.
"Movement" adalah gerak yang bersifat eksternal dan mudah diamati,
sedangkan "motor" adalah gerak yang bersifat internal, konstan, dan sukar
diamati.
Gerakan dapat ditinjau dari dua segi, yaitu dari segi ruang atau jarak (space)
dan dari sistem otot. Dilihat dari segi ruang atau jarak (space), gerakan ini dapat
dibagi menjadi:
(1) gerakan lokomotor, dan
(2) gerakan nonlokomotor.
Gerakan lokomotor adalah gerakan yang menyebabkan terjadinya
perpindahan tempat seperti berjalan, berlari, melompat, melangkah, skipping,
dan sliding. Gerakan nonlokomotor adalah gerakan yang tidak menyebabkan
perpindahan tempat, seperti bertepuk tangan, melenting, berputar, dan
meliukkan badan.
Ditinjau dari sistem otot, gerakan dapat dibagi tiga, yaitu
(1) fleksi,
(2) extensi, dan
(3) rotasi.
Fleksi adalah gerakan kontraksi otot yang menyebabkan gerakan
membengkok, extensi adalah gerakan meluruskan atau membentangkan yang
berlawanan dengan fleksi, sedangkan rotasi adalah gerakan berputar yang
berporos pada satu sumbu.
Banyak ahli yang telah mencoba membuat pengelompokkan-pengelompokkan
gerakan manusia, salah satunya adalah Anita Harrow. Menurut teori taksonomi
yang dikemukakan oleh Harrow (1971), gerakan manusia dapat dikelompokkan 25
sebagai berikut:
1. Gerakan refleks (Reflex Movement)
2. Gerakan dasar (Basic Fundamental Movement)
3. Kemampuan mengamati (Perceptual Abilities)
4. Kemampuan fisik (Physical Abilities)
5. Gerakan keterampilan (Skill Movement)
6. Kemampuan komunikasi non-diskursif (Non-discursive Communication)
A. Gerakan Refleks.
Gerakan refleks adalah gerakan atau tindakan manusia yang timbul sebagai
reaksi terhadap suatu stimulus tanpa keterlibatan kesadaran. Gerak refleks
umumnya terjadi tanpa kemauan kita dan merupakan gerak dasar dari perilaku
manusia. Gerak refleks telah dimiliki sejak manusia dilahirkan dan berkembang
hingga dewasa.
Dilihat dari usaha manusia dalam mengkondisikan refleks, maka gerakan
refleks dapat dibagi menjadi dua macam, yaitu:
a. Refleks bersyarat (conditional reflex)
b. Refleks tak bersyarat (unconditional reflex).
1. Refleks Bersyarat
Refleks bersyarat adalah gerakan refleks yang terjadi karena suatu latihan,
sedangkan refleks tak bersyarat adalah gerakan refleks yang terjadi secara
otomatis tanpa melalui proses latihan. Dalam kegiatan olahraga, conditioning
atau usaha untuk mengkondisikan refleks penting untuk menghasilkan suatu
kebiasaan sehingga menjamin otomatisasi gerakan-gerakan yang dilakukan.
Adapun secara lengkapnya, refleks dibagi sebagai berikut:
a. Refleks Spinal
(Spinal Reflexes) yang terdiri dari:
1) Refleks segmental: - Refleks fleksi
- Refleks Miotatik
- Refleks Ekstensi26
- Refleks Ekstensi silang
2) Refleks Intersegmental:
- Refleks Kooperatif
- Refleks Kompetitif
- Refleks Induktif
- Refleks bentuk (figure reflexes)
3) Refleks Suprasegmental
Suprasegemental Refleks terdiri dari:
- Refleks Ektensor yang kuat (Rigidity Extensor)
- Reaksi Plastis (Plasticity Reactions)
- Refleks Postural (Postural Reflexes)
Supporting reactions
Shifting Reactions
Tonic-Attitudinal Reflexes
Righting Reactions
Grasp Reflex
Placing and Hopping Reactions
Refleks segmental adalah gerakan refleks yang melibatkan satu ruas
tulang belakang. Seperti dikatakan di atas, refleks ini terdiri dari empat macam
refleks, yaitu:
- Refleks fleksi adalah suatu reaksi yang melibatkan anggota badan, lengan,
atau tungkai. Reaksi ini menyebabkan anggota badan bergerak
mendekati badan.
- Refleks miotatik adalah suatu gerakan yang menimbulkan mekanisme
keseimbangan, yang mana berfungsi untuk
(a) meregang otot-otot ekstensor,
(b) menyangga badan, dan
(c) mempertahankan titik berat badan dan tumpuan badan.
- Refleks ekstensi, merupakan kebalikan dari refleks fleksi, yaitu reaksireaksi gerakan yang meluruskan badan dan anggota badan.27
- Refleks ekstensi silang adalah refleks yang terjadi pada waktu berjalan.
Refleks ini menyebabkan gerakan ekstensi dari fleksi tungkai secara
bergantian.
Di lain pihak, refleks intersegmental adalah gerakan refleks yang
melibatkan lebih dari satu ruas tulang belakang. Contoh refleks intersegmental
adalah:
- Refleks kooperatif. Disebut demikian karena dua atau lebih refleks terjadi
saling mengikuti untuk menghasilkan pola gerakan yang halus.
- Refleks kompetitif, adalah suatu gerakan refleks yang disusul dengan
suatu gerakan refleks yang berlawanan.
- Refleks induktif (successive induction) adalah hasil dari refleks
kompetitif di mana refleks antagonis disusul oleh refleks lainnya untuk
menghasilkan suatu pola gerakan seperti pada waktu berjalan atau berlari.
- Refleks berbentuk adalah suatu pola gerakan yang kompleks yang
melibatkan interaksi antar refleks anggota badan (tangan dan kaki).
Refleks ini adalah dasar koordinasi antara gerakan berjalan dan berlari.
Refleks suprasegmental adalah refleks yang terjadi atas kerja sama-pusat otak
dengan jaringan syaraf beserta otot-otot anggota badan dan torso untuk
menghasilkan gerakan. Untuk mengidentifikasi kesemua refleks yang termasuk
ke dalam suprasegmental reflexes ini, bisa dilihat dari contoh-contoh berikut:
(1) Refleks ekstensor yang kuat, yaitu pola gerakan badan yang kompleks
yang terutama ditentukan oleh kontraksi otot-otot ekstensor atau otot anti
gravity dari lengan dan tungkai.
(2) Reaksi plastis yang menyebabkan gerakan-gerakan memendek dan
memanjang. Reaksi yang memendek menyebabkan kecenderungan otototot ekstensor memendek dan reaksi yang memanjang akan
menyebabkan kebalikannya.
(3) Refleks postural, yaitu refleks yang mengatur badan. Contohnya adalah:
(a) Supporting reaction yaitu gerakan refleks yang menunjang
mempertahankan sikap badan agar tetap tegak.
(b) Shifting reaction atau reaksi yang berubah-ubah, yaitu reaksi yang 28
membantu agar badan tetap dalam posisi stabil tanpa kehilangan
keseimbangan.
(c) Tonic-attitudinal, yaitu refleks yang menguatkan sikap badan dengan
cara meningkatkan ketegangan otot-otot. Refleks ini distimulasi
melalui pengaruh kinestetis pada pundak yang menyebabkan
penyesuaian sikap badan dalam hubungannya dengan posisi kepala.
(d) Righting reaction, yaitu reaksi pembenaran yang membantu individu
memperoleh kembali keseimbangannya.
(e) Refleks menggenggam adalah suatu gerakan menggenggam yang
dilakukan bila diletakkan suatu benda pada telapak tangan.
(f) Placing and hopping reaction, adalah reaksi penyesuaian anggota
badan untuk memperoleh penempatan diri yang lebih baik untuk
membantu posisi badan. Contohnya adalah orang yang kehilangan
keseimbangannya segera melakukan lompatan untuk memperoleh
kembali keseimbangannya.
B. Gerakan-gerakan Dasar Fundamental
Gerakan dasar fundamental merupakan pola gerakan yang menjadi dasar
untuk ketangkasan gerak yang lebih kompleks. Gerakan-gerakan ini terjadi atas
dasar gerakan refleks yang berhubungan dengan badannya, merupakan bawaan
sejak lahir dan terjadi tanpa melalui latihan, tetapi dapat diperhalus lebih baik lagi
dengan latihan. Performa yang baik dari pola gerak ini bersifat penting karena
menjadi starting point untuk pengembangan kemampuan perseptual dan fisik
anak, serta tidak kalah pentingnya untuk pengembangan keterampilan gerak
olahraga.
Malina (1991), Dauer dan Pangrazi (1986), serta Kogan (1982) berpendapat
bahwa gerakan-gerakan dasar fundamental dibagi atas:
1. Gerakan Lokomotor
Gerakan lokomotor adalah gerakan yang menyebabkan terjadinya
perpindahan tempat atau keterampilan yang digunakan memindahkan tubuh dari 29
satu tempat ke tempat lainnya. Ke dalam keterampilan ini termasuk gerakangerakan seperti berjalan, berlari, melompat, hop, berderap, skip, slide,
dan sebagainya.
2. Gerakan Nonlokomotor
Sedangkan gerakan nonlokomotor adalah gerakan yang tidak
menyebabkan pelakunya berpindah tempat, seperti menekuk,
membengkokkan badan, membungkuk, menarik, mendorong, meregang,
memutar, mengayun, memilin, mengangkat, merentang, merendahkan tubuh,
dll.
3. Gerakan Manipulatif
Kemudian gerakan manipulatif biasanya dilukiskan sebagai gerakan yang
mempermainkan obyek tertentu sebagai medianya, atau keterampilan yang
melibatkan kemampuan seseorang dalam menggunakan bagian-bagian
tubuhnya untuk memanipulasi benda di luar dirinya. Menurut Kogan (1982)
keterampilan ini perlu melibatkan koordinasi antara mata-tangan dan koordinasi
mata-kaki, misalnya menangkap, melempar, menendang, memukul dengan pemukul
seperti raket, tongkat, atau bat. Sebagian ahli memasukkan juga gerakan seperti
mengetik dan bermain piano sebagai gerakan manipulatif. Gerakan manipulatif ini
dibedakan antara gerak prehension dan gerak deksteritas.
- Gerakan prehension yaitu kombinasi dari beberapa refleks dan
koordinasi dengan kemampuan pengamatan dengan kegiatan
pengertian. Contoh bayi memegang suatu benda akibat adanya kerja
sama antara refleks fleksi, menggenggam, dan refleks inhibitory.
- Gerakan deksteritas adalah kemampuan tangan dan jari-jari seperti
menyusun dadu, menggambar, dan mempermainkan bola.
C. Kemampuan Perseptual
Kemampuan perseptual dan fungsi gerak tidak dapat dipisahkan.
Kemampuan perseptual membantu seseorang menafsirkan stimuli secara
tepat sehingga ia mampu menyesuaikan diri dengan lingkungannya dan 30
dapat menghasilkan prilaku yang efektif dan efisien.
Berfungsinya secara efisien dari kemampuan perseptual merupakan faktor
esensial dalam perkembangan anak dalam domain afektif, kognitif, dan
psikomotor. Kemampuan ini membantu anak dalam menginterpretasi stimulus
yang menjadikannya mampu membuat penyesuaian terhadap lingkungan.
Masyarakat modern yang mengistimewakan pencapaian dalam kemampuan
kognitif dan prestasi psikomotorik, sebenarnya perlu menempatkan
pengembangan gerak perseptual pada posisi yang istimewa. Artinya, para
siswa atau anak harus mendapatkan kesempatan yang maksimal untuk terlibat
secara dini dalam aktivitas yang merangsang perangkat inderawi dan
kesempatan untuk mengeksplorasi berbagai tugas gerak untuk memudahkan
perkembangan kemampuan perseptual ini.
Kemampuan perseptual menunjuk pada semua modalitas perseptual anak
yang berperan dalam menerima rangsangan yang datang padanya serta
membawanya ke pusat otak yang lebih tinggi untuk diinterpretasi. Hasil
interpretasi inilah yang kemudian oleh pusat otak digunakan untuk mengambil
keputusan pemberian respons.
Kemampuan perseptual dibagi dalam lima kategori, yaitu:
1. Diskriminasi Kinestetik
Diskriminasi atau pembedaan kinestetik meliputi pengertian yang akurat
dari badan, permukaan badan, dan anggota badan. Termasuk juga di
dalamnya dimensi kiri dan kanan, penghayatan diri dalam hubungannya
dengan lingkungan dan ruang. Pembedaan kinestetis meliputi:
(1) Kesadaran badaniah (body awareness), yaitu kemampuan untuk
mengenal dan mengontrol badan atau bagian-bagiannya. Artinya,
anak menjadi sadar bagaimana tubuhnya berfungsi ketika harus
melakukan aktivitas yang merangsang kesadarannya tentang:
Bilateralitas atau gerakan-gerakan yang terjadi atau dilakukan oleh
kedua sisi badan seperti menangkap dalam permainan bola.31
Lateralitas atau gerakan-gerakan yang dilakukan oleh salah satu sisi
badan seperti memantulkan bola dengan satu tangan.
Kesebelahan atau dominansi, di mana sisi badan yang dominan
memimpin semua kegiatan seperti makan, menulis, atau bermain
tenis, yang selalu dilakukan dengan tangan yang paling kuat atau
dominan.
Keseimbangan, yaitu kemampuan untuk mempertahankan posisi
titik berat tubuh (center of gravity) relatif di atas dari dasar tumpuan,
seperti dalam berdiri satu kaki, berdiri tangan, atau ketika sedang
bergerak.
(2) Citra badaniah, yaitu suatu pengertian tentang dirinya sendiri, atau
dengan kata lain kemampuan seseorang untuk mengetahui,
memahami, dan mengakui perubahan-perubahan jasmaninya yang
berlangsung sejak ia dilahirkan hingga dewasa. Kesadaran ini akan
timbul melalui pengalaman, khususnya pengalaman prestasi gerak.
(3) Kesadaran antara jasmani dan lingkungannya, yaitu kemampuan
seseorang untuk menyadari hubungan antara badan dan
lingkungannya. Seperti adaptasi atau sikap kita bila melewati orang tua.
2. Diskriminasi Visual
Pembedaan Visual meliputi:
(1) Ketajaman penglihatan (Visual Acuity), yaitu kemampuan untuk
mengenal bentuk secara mendetail. Dapat juga dikatakan ketajaman
penglihatan adalah kemampuan seseorang untuk menerima dan
membedakan berbagai obyek yang diamati. Contohnya, mengenal
bentuk lingkaran dan segi empat, memilih suatu benda yang kecil di
antara kelompok benda yang terdiri dari berbagai ukuran.
(2) Visual tracking yaitu kemampuan mengikuti tanda atau obyek yang
dikoordinasikan gerakan-gerakan mata. Contoh mengamati kapal
terbang atau mengamati bola pingpong yang sedang melayang.
(3) Visual memory yaitu kemampuan untuk mengenal dan menghasilkan 32
kembali yang pernah dilihatnya. Visual memory berguna untuk
mengingat dan melakukan pola gerakan yang diamati seperti
rangkaian melakukan roll dalam senam.
(4) Perbedaan bentuk dasar (Figmi ground) yaitu kemampuan memilih
bentuk yang dominan dari hal-hal yang melatarbelakanginya. Atlet atau
siswa harus dapat mengidentifikasi dan merespons gerakan yang
dominan dari suatu obyek, seperti menangkap bola, memantul bola
dan memukul bola dalam tenis dan tenis meja.
(5) Konsistensi yang berhubungan dengan kemampuan menafsirkan
secara konsisten bila melihat suatu obyek dengan tipe yang sama.
Walaupun suatu gerakan telah dimodifikasi sedemikian rupa, akan tetapi
gerakan itu masih dapat dikenali dasar-dasar gerakannya.
3. Diskriminasi Auditif
Pembedaan Auditif yaitu kemampuan menerima, menghayati, dan
membeda-bedakan berbagai jenis suara. Pembedaan pendengaran dibagi
atas:
(1) Ketajaman pendengaran, yaitu kemampuan menerima dan
membedakan berbagai suara dalam hubungannya dengan tingkatan
nada dan intensitas, misalnya bunyi, musik, bunyi binatang, dll.
(2) Auditory tracking, yaitu kemampuan mengenal dan melakukan apa
yang pernah didengarnya seperti bermain piano dengan mengingat
suatu lagu yang pernah didengarnya.
4. Diskriminasi Taktil
Pembedaan Taktil yaitu kemampuan membedakan berbagai jenis susunan
hanya dengan menggunakan kepekaan meraba. Kemampuan ini sangat perlu
bagi orang buta yang menggunakan hurup Braille.
5. Kemampuan Terkoordinasikan
Sedangkan pembedaan gerak terkoordinasi adalah kemampuan yang
mencakup dua atau lebih kemampuan perseptual pola-pola gerakan. 33
Termasuk ke dalam kemampuan gerak terkoordinasi adalah:
(1) Koordinasi mata dan tangan yang berhubungan dengan kemampuan
memilih suatu obyek dan mengkoordinasikannya (obyek yang dilihat
dengan gerakan-gerakan yang diatur). Contoh-nya adalah dalam
permainan tenis meja. Kegiatan koordinasi mata dan tangan
menghendaki pengamatan yang tepat dan pengaturan dari gerak.
(2) Koordinasi mata dan kaki, yang berhubungan dengan kemampuan
melakukan suatu gerakan berdasarkan penglihatan dan gerak
anggota badan bagian bawah. Misalnya, menendang bola.
D. Kemampuan Fisik
Kemampuan fisik diperlukan dalam mempelajari gerak agar hasil yang
dicapai cukup efisien. Dalam kenyataannya, kemampuan fisik diperlukan
sebagai dasar untuk mengembangkan gerakan-gerakan ketangkasan.
Kemampuan fisik adalah karakteristik fungsional dari semua organ kekuatan.
Apabila kemampuan tersebut dikembangkan pada seseorang, maka ia akan
mempergunakannya secara benar dan efisien dalam melakukan suatu gerakan.
Oleh karena itu maka tingkat kemampuan fisik harus dikembangkan hingga
mampu mengatasi kebutuhan untuk perbuatan yang efisien.
Secara umum kemampuan fisik dapat dibedakan dalam unsur-unsur seperti
di bawah ini:
1. Daya tahan (endurance)
Daya tahan (endurance) adalah kemampuan tubuh mensuplai oksigen yang
diperlukan untuk melakukan suatu kegiatan. Apabila seseorang melakukan
kegiatan latihan khusus untuk memperbaiki daya tahannya maka akan terjadi
peningkatan kapiler-kapiler jaringan otot. Dengan kata lain dapat dikatakan
bahwa orang yang terlatih yang memiliki kemampuan daya tahan yang besar
dapat bekerja dalam waktu yang lebih lama dan efisien dalam melakukan pola
geraknya.
Daya tahan otot (muscular endurance) adalah kemampuan otot atau 34
sekelompok otot untuk bertahan melakukan suatu kegiatan dalam waktu yang
lama.
Daya tahan jantung (Cardiovascular Endurance) adaiah kemampuan
seseorang untuk mempertahankan suatu kegiatan yang membutuhkan tahanan
dalam waktu yang lama. Termasuk dalam hal ini adalah interaksi yang efisien
dari pembuluh-pembuluh darah jantung dan paru-paru.
2. Kekuatan (Strength)
Kekuatan (Strength). Menurut Morehouse dan Miller (1963) kekuatan adalah
kemampuan seseorang untuk membangkitkan tegangan (tension) terhadap suatu
tahanan (resistensi). Derajat kekuatan otot pada umumnya berbeda untuk setiap
orang. Kekuatan otot dapat dikembangkan melalui latihan-latihan otot melawan
tahanan yang ditingkatkan sedikit demi sedikit. Latihan-latihan yang secara
langsung mendukung peningkatan kekuatan otot adalah latihan-latihan isometrik
dan latihan dengan beban berat.
3. Kelentukan (Flexibility)
Kelentukan (Flexibility) adalah kualitas yang memungkinkan suatu segmen
bergerak semaksimal mungkin menurut kemungkinan rentang geraknya (range
of movement). Fleksibilitas seseorang ditentukan oleh kemampuan gerak dari
sendi-sendi. Makin luas ruang gerak sendi-sendi makin baik fleksibilitas
seseorang. Suatu derajat fleksibilitas yang tinggi diperlukan untuk menghasilkan
suatu gerakan yang efisien dan untuk mencegah terjadinya cedera pada otot
maupun persedian. Latihan yang mendukung secara langsung peningkatan
fleksibilitas adalah senam.
4. Kelincahan (agility)
Kelincahan (Agility) adalah kemampuan seseorang untuk bergerak
secara cepat. Komponen-komponen agilitas adalah:
(1) melakukan gerak perubahan arah secara cepat,
(2) berlari cepat kemudian berhenti secara mendadak, dan
(3) kecepatan bereaksi.35
Menurut Claude Bouchard, Jean Brunelle dan Paul Godbont (1978)
kecepatan bergerak ditentukan oleh faktor-faktor berikut:
1) Frekuensi rangsang, yang tergantung pada kemauan, kebutuhan
tekad, serta mobilitas syaraf.
2) Kecepatan kontraksi otot.
3) Tingkat tonasi gerak.
4) Keadaan kualitas otot tertentu, misalnya kekuatan otot serta tenaga
ledak otot (muscle power).
Latihan-latihan senam dan power sangat membantu dalam
meningkatkan agilitas.
E. Gerakan-Gerakan Keterampilan
Terdapat berbagai batasan yang dikemukakan tentang keterampilan. Menurut
Munn, keterampilan adalah kecakapan dalam melaksanakan suatu tugas. Laban dan
Laurence (1947) mengemukakan bahwa keterampilan adalah usaha yang ekonomis
yang diperlihatkan seseorang selama melakukan suatu gerakan yang kompleks.
Seashore (1940) selanjutnya mengemukakan bahwa keterampilan adalah tingkat
efisiensi dalam melakukan gerakan yang kompleks.
Berdasarkan batasan-batasan yang telah dikemukakan, maka yang
dimaksud dengan gerakan keterampilan adalah tingkat efisiensi yang
diperlihatkan seseorang dalam melakukan tugas gerak yang kompleks.
Gerakan keterampilan mempunyai dua hubungan, yaitu hubungan
vertikal dan hubungan horisontal. Hubungan vertikal adalah tingkat kesulitan
dari berbagai keterampilan yang dilakukan. Hubungan ini disebut tingkat
kompleksitas (level of complexity). Hubungan horisontal berkaitan dengan
tingkat kemampuan seseorang mempelajari suatu gerakan (level of
proficiecy).
a. Gerakan keterampilan sederhana:
1) pemula,
2) lanjutan,
3) penyempurnaan,36
4) keterampilan tingkat tinggi.
b. Adaptasi terhadap keterampilan yang digabungkan:
1) pemula,
2) lanjutan,
3) penyempurnaan,
4) keterampilan tingkat tinggi
c. Adaptasi terhadap keterampilan yang kompleks:
1) pemula,
2) lanjutan,
3) penyempurnaan,
4) keterampilan tingkat tinggi)
Adaptasi keterampilan sederhana lebih banyak berhubungan dengan
gerakan-gerakan dasar fundamental. Gerakan-gerakan yang semula bersifat
sederhana dan mendasar seperti berjalan, ketika ditempatkan atau dirangkai
dalam situasi baru agar sesuai dengan kondisinya, masuk dalam kategori
adaptasi keterampilan sederhana ini. Gerakan menggergaji yang merupakan
pengembangan atau adaptasi dati gerakan dasar mendorong dan menarik,
atau gerak irama walz, yang merupakan adaptasi dari gerak dasar berjalan,
adalah contoh dari adaptasi keterampilan sederhana.
Adaptasi keterampilan yang digabungkan dibangun di atas efisiensi
keterampilan dasar dan digabungkan dengan pengaturan dalam
penerapannya. Gerakan-gerakan yang tergolong dalam kategori ini
termasuk keterampilan-keterampilan dalam semua permainan yang
menggunakan alat pemukul seperti tennis, bulutangkis, tenismeja, hockey,
dan golf.
Adaptasi keterampilan yang kompleks adalah keterampilan yang
menghendaki penguasaan yang lebih cermat dari mekanika tubuh, sebagai
penerapan dari hukum-hukum fisika terhadap tubuh pada waktu diam atau
ketika bergerak. Gerakan-gerakan yang termasuk dalam kategori ini adalah
senam dan trampoline, yang banyak melibatkan gerakan yang sulit, seperti
salto atau twist. Gerakan seperti itu mengharuskan penampil 37
memperhitungkan ruang dan menilai waktu yang diperlukan dalam
menyelesaikan gerakannya. Tentu gerakan seperti itu tidak mudah dipelajari.
Untuk memperoleh keterampilan gerak yang efisien maka seseorang
perlu dibina secara bertahap mulai dari tingkat yang lebih rendah hingga
tingkat yang paling tinggi. Oleh karena itu latihan harus dimulai dengan
pemberian pola gerakan dasar. Dengan berlatih secara berulang-ulang
tingkat efisiensi dalam melakukan gerakan dapat dicapai.
Seseorang dikategorikan pemula dalam keterampilan gerak, bila ia
mulai meniru dan belajar suatu gerakan yang baru. Apabila ia dapat
melakukan gerakan-gerakan yang baru, dan mengatasi kesulitankesulitannya dengan mudah berarti ia telah memiliki keterampilan tingkat
menengah (intermediate). Keterampilan tingkat lanjutan (advance) dikategorikan kepada mereka yang mampu melakukan gerakan-gerakan tersebut
dengan mudah.
Tingkat keterampilan yang tinggi hanya mungkin dicapai dengan latihan
yang berulang-ulang yang melibatkan semua pengalaman belajar yang
diperoleh.
Gambar berikut memperlihatkan bahwa untuk mencapai tingkat
keterampilan yang sempurna latihan-latihan perlu dilakukan secara bertahap
dimulai dari gerakan dasar.
Gambar 7.2. Tingkatan Keterampilan
Gerakan Dasar / Fundamental
Skill Tingkat Intermediate
Skill Tingkat Advance
Skill Tingkat Pemula
Skill Tingkat Sempurna38
F. Komunikasi Non Discursive
Gerakan komunikatif adalah gerakan yang selalu tampak dalam
kehidupan sehari-hari dan merupakan suatu aspek yang penting dari perilaku
gerak seseorang. Berdasarkan gerakan-gerakan yang dilakukan, para peneliti
mencoba mengamati dan membaca apa yang sesungguhnya terkandung
dalam pikiran seseorang. Penafsiran atas perilaku gerakan komunikatif dapat
membantu para pendidik memilih strategi belajar yang lebih tepat.
Gerakan non discursive ini terdiri dari:
1. Gerakan Ekspresif:
Gerakan ekspresif terjadi berdasarkan gerakan-gerakan komunikatif yang
terjadi dalam kehidupan sehari-hari. Tipe dari gerakan ini merupakan ekspresi
badan yang dikaitkan dengan keadaan emosi bersama-sama dengan
komunikasi verbal yang lebih ditekankan pada kata-kata. Gerakan komunikatif
yang dilakukan dengan tangan atau isyarat, sikap dan gerakan badan, serta
ekspresi pendahuluan merupakan bentuk tanda bahasa yang dipelajari dan
ditafsirkan oleh anak-anak dan digunakan dalam permulaan hidupnya.
Menurut jenisnya, gerakan ekspresif di bagi menjadi:
1) sikap dan gerakan badan
2) gerakan tangan atau isyarat
3) ekspresi pendahuluan
2. Gerakan interpretatif:
Gerakan interpretatif terjadi berdasarkan gerakan-gerakan estetis dan
gerakan-gerakan kreatif. Gerakan estetis dan kreatif dianggap sebagai bentuk
gerakan-gerakan keindahan. Gerakan estetik adalah gerakan-gerakan
ketangkasan yang dilakukan secara efisien sehingga menghasilkan gerakan
yang indah. Sedangkan gerakan kreatif adalah gerakan-gerakan yang dilakukan
berhubungan dengan orang yang melihat arti dari gerakan tersebut.
Perlu diingat bahwa untuk mencapai tingkat yang paling tinggi dalam
perilaku gerakan harus dimulai dengan memfungsikan mekanisme refleks dan 39
berpautan dengan pola gerakan, harus memperbaiki kemampuan perseptual
dan kemampuan fisik, dan harus menjadi satu bangunan penggerak yang
tangkas di atas landasan kemampuan komunikasi non-discursive.
Latihan
1. Apakah inti perbedaan dari arti movement dengan motor?
2. Menurut taksonomi dari Harrow, gerak dibedakan menjadi 6 macam.
Apakah keenam jenis gerak tadi; berikan contoh dari setiap jenis tersebut.
3. Sebutkan pembagian dari gerakan dasar (basic fundamental movement) dan
uraikan definisinya, serta berikan contoh dari masing-masingnya.
4. Dalam kemampuan perseptual dikenal adanya kemampuan diskriminasi
kinestetik. Sebutkan apakah yang dimaksud dengan diskriminasi kinestetik
tersebut, dan mengapa kemampuan itu penting dalam pencapaian
keterampilan?
5. Uraikan dengan singkat perbedaan dari kekuatan dan power. Yang
manakah yang lebih penting dimiliki oleh seorang atlet tolak peluru?
Petunjuk Mengerjakan Latihan
Semua jawaban untuk latihan-latihan di atas dapat ditemui pada naskah,
sehingga apa yang harus Anda lakukan adalah mencoba mencari pokok
masalah yang dipertanyakan dalam latihan. Sebagian pertanyaan memang
membutuhkan jawaban kritis dan analitis, atau kadang bersifat sintetis. Untuk itu,
Anda diharapkan dapat mempelajari konsepnya secara mendalam, kemudian
mencari hubungan dari konsep itu dan menyimpulkannya. Kadang, jawaban dari
pertanyaan latihan dapat ditemui dengan mudah pada rangkuman.
Rangkuman
Gerakan refleks adalah gerakan atau tindakan manusia yang timbul
sebagai reaksi terhadap suatu stimulus tanpa keterlibatan kesadaran. Refleks 40
bersyarat adalah gerakan refleks yang terjadi karena suatu latihan. Refleks tak
bersyarat adalah gerakan refleks yang terjadi secara otomatis tanpa melalui
proses latihan. Refleks suprasegmental adalah refleks yang terjadi atas kerja
sama pusat otak dengan jaringan syaraf beserta otot-otot anggota badan
dan torso untuk menghasilkan gerakan.
Gerakan lokomotor adalah gerakan yang menyebabkan terjadinya
perpindahan tempat atau keterampilan yang digunakan memin-dahkan tubuh
dari satu tempat ke tempat lainnya. Ke dalam ke-terampilan ini termasuk
gerakan-gerakan seperti berjalan, berlari, melompat, hop, berderap, skip,
slide, dan sebagainya. Gerakan nonlokomotor adalah gerakan yang tidak
menyebabkan pelakunya berpindah tempat, seperti menekuk,
membengkokkan badan, membungkuk, menarik, mendorong, meregang,
memutar, mengayun, memilin, mengangkat, merentang, merendahkan tubuh,
dll. Gerakan manipulatif biasanya dilukiskan sebagai gerakan yang
mempermainkan obyek tertentu sebagai medianya, atau keteram-pilan yang
melibatkan kemampuan seseorang dalam menggunakan bagian-bagian
tubuhnya untuk memanipulasi benda di luar dirinya
Diskriminasi kinestetik melipuh pengertian yang akurat dari badan,
permukaan badan, dan anggota badan. Termasuk juga di dalamnya dimensi
kiri dan kanan, penghayatan diri dalam hubungannya dengan lingkungan
dan ruang. Visual Actuity yaitu kemampuan untuk mengenal bentuk secara
mendetail. Dapat juga dikatakan ketajaman penglihatan adalah kemampuan
seseorang untuk menerima dan membedakan berbagai obyek yang diamati.
Contohnya, mengenal bentuk lingkaran dan segi empat, memilih suatu
benda yang kecil di antara kelompok benda yang terdiri dari berbagai ukuran.
Visual tracking yaitu kemampuan mengikuti tanda atau obyek yang
dikoordinasikan gerakan-gerakan mata. Contoh mengamati kapal terbang
atau mengamati bola pingpong yang sedang melayang. Visual memory yaitu
kemampuan untuk mengenal dan menghasilkan kembali sesuatu yang
pernah dilihat. Visual memory berguna untuk mengingat dan melakukan pola
gerakan yang diamati seperti rangkaian melakukan roll dalam senam.41
Figmi-ground (perbedaan bentuk dasar) yaitu kemampuan memilih
bentuk yang dominan dari hal-hal yang melatarbelakanginya. Atlet atau siswa
harus dapat mengidentifikasi dan merespons gerakan yang dominan dari
suatu obyek, seperti menangkap bola, memantul bola dan memukul bola
dalam tenis dan tenis meja. Pembedaan Auditif yaitu kemampuan menerima,
menghayati, dan membeda-bedakan berbagai jenis suara. Pembedaan Taktil
yaitu kemampuan membedakan berbagai jenis susunan hanya dengan
menggunakan kepekaan meraba. Kemampuan ini sangat perlu bagi
orang buta yang menggunakan hurup Braille.
Tes Formatif 2
Berilah tanda silang (X) pada salah satu jawaban A, B, C, atau D yang paling
tepat.
1. Gerakan lokomotor adalah gerakan yang:
A. menyebabkan tubuh diam di tempat,
B. menyebabkan tubuh tidak seimbang,
C. menyebabkan tubuh berubah posisi
D. menyebabkan tubuh berpindah tempat
2. Gerakan non-lokomotor dicontohkan oleh gerakan sebagai berikut,
kecuali:
A. Memilin badan,
B. Memutar lengan,
C. Meloncat ke depan,
D. Mengayun lengan depan dan belakang.
3. Refleks bersyarat sebagai salah satu jenis refleks, adalah refleks
yang:
A. Dapat dilatih sehingga dapat dimanfaatkan dalam olahraga,
B. Dapat berlangsung tanpa disadari,
C. Tidak dapat dilatih,
D. Tidak memerlukan pemikiran ketika melakukannya.
4. Kemampuan perseptual di bagi ke dalam 4 bagian di bawah ini,
kecuali:
A. Diskriminasi inderawi,
B. Diskriminasi taktil
C. Diskriminasi visual
D. Diskriminasi kinestetik
5. Kemampuan penglihatan untuk memilih bentuk yang dominan dari 42
hal-hal yang melatarbelakanginya disebut:
A. Figmi ground
B. Visual memory
C. Visual tracking
D. Visual acuity
6. Komunikasi non-diskursif merupakan kemampuan yang relatif
identik dengan profesi:
A. Atlet dan olahragawan,
B. Penyanyi
C. Artis film
D. Pesulap.
Setelah anda menjawab semua pertanyaan di atas, cocokkan hasil jawaban
anda dengan kunci jawaban tes yang ada di belakang modul ini dan hitunglah
jawaban anda dengan benar. Kemudian gunakan formula matematis di bawah ini
untuk mengetahui tingkat penguasaan anda dalam materi kegiatan pembelajaran
di atas.
Jumlah jawaban yang benar
Rumus : Tingkat Penguasaan = x 100 %
6
Kriteria tingkat penguasaan yang dicapai:
90 % - 100 % = Baik sekali
80 % - 89 % = Baik
70 % - 79 % = Cukup
60 % - 69 % = Kurang
60 ke bawah = Kurang sekali
Bila anda telah mencapai tingkat penguasaan 80 % atau lebih, anda dapat
meneruskan dengan Kegiatan Belajar berikutnya. Bagus ! Tetapi bila tingkat
anda masih di bawah 80 %, anda harus mengulangi Kegiatan Belajar 1 tersebut
terutama bagian yang belum anda kuasai.
KUNCI JAWABAN
TES FORMATIF 143
1. D. (Perspektif tugas dan perspektif penguasaan tugas)
2. C. (Tinggi rendahnya kompleksitas tugas tersebut),
3. C. (Di lingkungan yang tidak mudah diduga),
4. C. (Sepatu roda)
5. B. (Keterampilan yang memerlukan waktu pelaksanaan singkat dan
mudah dilihat awal serta akhir gerakannya).
6. A. (E.R. Guthrie).
TES FORMATIF 2
1. D (menyebabkan tubuh berpindah tempat)
2. C (meloncat ke depan)
3. A (dapat dilatih dan dapat dimanfaatkan dalam olahraga)
4. A (Diskriminasi inderawi)
5. A (Figmi ground)
6. C (Artis film)
DAFTAR PUSTAKA
Harrow, Anita J. (1972). A Taxonomy of the Psychomotor Domain. Longman Inc.
New York.
Magill, Ricahrd A. (1993) Motor Learning: Concepts and Applications (4th Ed.).
WMC. Brown. Dubuque. IA.
Schmidt, Richard A. (1991). Motor Learning and Performance: From Principle
into Practice. Human Kinetics. Champaign, IL.
Schmidt, Richard A. and Wristberg, Craig A. (2000). Motor Learning and
Performance: A Problem-Based Learning Approach. Human Kinetics,
Champaign, IL.
Singer, Robert N. (1980). Motor Learning and Human Performance: An
Application to Motor Skills and Movement Behaviors. Macmillan Pub.
New York

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar